Saturday, April 28, 2007

MEMILIH DAN MENGGANTI PELUMAS YANG PAS



Memilih dan mengganti pelumas menjadi bagian sangat penting dalam merawat kendaraan bermotor. Teknologi dan pemakaian kendaraan mensyaratkan jenis pelumas tertentu. Karena itu perbedaan spesifikasi pelumas perlu dipahami betul oleh pemilik kendaraan agar tidak terjadi salah pakai dan pemborosan.

Kondisi kendaraan bermotor sangat ditentukan oleh pemeliharaannya. Dengan perawatan yang baik, mobil akan selalu dalam kondisi prima. Bila asal-asalan, jangan heran kalau kendaraan sering ngadat.

Perawatan yang tergolong sederhana tetapi sangat vital adalah penggantian rutin minyak pelumas. Meski sederhana, jenis perawatan ini sering menyisakan persoalan pemilihan pelumas yang tepat dan hal-hal yang berkaitan dengan penggantiannya. Pasalnya, pelumas di pasaran tidak hanya berbeda merek tetapi juga memiliki berbagai spesifikasi. Selain itu, penggantian pelumas (untuk mesin) juga berkaitan dengan penggantian suku cadang lainnya.

Oli mesin paling vital

Dalam memilih pelumas, jenis kegunaan, kekentalan, dan mutu merupakan tiga hal yang menentukan. Dari segi kegunaan, ada pelumas sangat kental seperti gel yang biasa disebut grease alias gemuk. Begitu kentalnya, gemuk akan menempel terus pada komponen yang dilumasi dan tidak akan menetes, sehingga cocok untuk komponen-komponen terbuka seperti engsel pintu, sendi-sendi batang kemudi (tie rod), lengan suspensi, dsb.

Untuk melumasi komponen yang sifatnya lebih penting, mengandalkan presisi, dan rumit seperti mesin, transmisi, dan gardan (diferensial), diperlukan pelumas yang lebih encer ketimbang gemuk. Pelumas encer yang akrab disebut oli ini dapat bergerak luwes melalui permukaan komponen yang saling bergesekan. Selain itu kondisi yang lebih encer ini memastikan setiap permukaan logam tertutup pelumas.

Oli untuk mesin lebih encer daripada yang digunakan pada roda gigi (transmisi, gardan). Ini dimaksudkan agar pelumas dapat disirkulasikan melalui saluran-saluran kecil dan sempit dalam mesin dengan lancar. Sedangkan pada roda gigi, pelumas disirkulasikan dengan bantuan putaran roda gigi itu sendiri. Dengan tingkat kekentalan tinggi pelumas terangkat oleh gerigi roda, dan pelumas yang kental dapat meredam suara gesekan lebih baik. Jadi untuk membedakan pelumas mesin dan pelumas roda gigi, dapat dilihat dari kekentalanya. Atau, dilihat dari label kemasannya, Engine Oil atau Gear Oil.

Dari semua jenis pelumas tadi, pelumas mesinlah yang paling penting lantaran di dalam mesin terjadi berbagai macam gerakan yang memerlukan pelicin supaya tidak mudah aus. Karena kerja pelumas pada mesin lebih berat, maka penggantiannya pun lebih sering dibandingkan dengan pelumas lainnya.

Berdasarkan bahan bakunya, pelumas dibedakan atas dua macam, mineral dan sintetis. Pelumas mineral berbahan dasar minyak bumi. Setelah diolah, minyak bumi ditambah bahan-bahan aditif agar mutu pelumas menjadi lebih baik. Pada pelumas modern biasanya bahan aditifnya cukup lengkap, sehingga beberapa merek tidak menganjurkan penambahan aditif atau oil treatment. Sedangkan jenis sintetis adalah pelumas berbahan dasar campuran berbagai macam bahan kimia yang dibuat di laboratorium. Umumnya, pelumas sintetis mempunyai tingkat mutu lebih tinggi daripada pelumas mineral, namun harganya lebih mahal.

Warna pelumas bermacam-macam tergantung dari mereknya. Ada yang berwarna merah, hijau tua, kuning, atau ungu.
Oli juga dibedakan atas kekentalannya. Dalam kemasan atau kaleng pelumas, biasanya ditemukan kode huruf dan angka yang menunjukkan kekentalannya. Contohnya, SAE 40, SAE 90, SAE 10W-50, SAE 5W-40, dsb. SAE merupakan kependekan Society of Automotive Engineers atau Ikatan Ahli Teknik Otomotif. SAE mirip organisasi standarisasi seperti ISO, DIN, JIS, dsb. yang mengkhususkan diri di bidang otomotif. Sedangkan angka di belakang huruf tersebut menunjukkan tingkat kekentalannya.

Maka, SAE 40 menunjukkan oli tersebut mempunyai tingkat kekentalan 40 menurut standar SAE. Semakin tinggi angkanya, semakin kental pelumas tersebut. Ada juga kode angka multi grade seperti 10W-50, yang menandakan pelumas mempunyai kekentalan yang dapat berubah-ubah sesuai suhu di sekitarnya. Huruf W di belakang angka 10 merupakan singkatan kata Winter (musim dingin). Maksudnya, pelumas mempunyai tingkat kekentalan sama dengan SAE 10 pada saat suhu udara dingin dan SAE 50 ketika udara panas. Oli seperti ini sekarang banyak di pasaran karena kekentalannya luwes (flexible) dan tidak cenderung mengental saat udara dingin sehingga mesin mudah dihidupkan di pagi hari.

Pada suhu udara panas atau normal, tingkat kekentalan pelumas mesin berkisar 40 - 60. Sedangkan pelumas roda gigi seperti persneling, gardan, dsb., kekentalannya 90 untuk kendaraan tugas ringan seperti kendaraan penumpang, dan 140 untuk kendaraan tugas berat seperti truk, traktor, alat berat, dan semacamnya. Oli jenis ini tidak begitu dipengaruhi oleh suhu udara di sekitarnya.

Khusus untuk transmisi otomatis, pelumas yang digunakan berbeda dengan transmisi manual. Pelumas transmisi otomatis sering disebut juga ATF (automatic transmission fluid). Sebenarnya fungsi ATF tidak hanya sebagai pelumas tetapi juga sebagai pemindah tenaga atau minyak hidrolik. Karena itu ATF juga sering digunakan pada power steering (peringan kemudi).

Makin lengket, makin bagus

Selain kekentalan, yang juga perlu diperhatikan adalah mutunya. Kalau tingkat kekentalan mempunyai satuan SAE, maka tingkat mutu mempunyai satuan sendiri yaitu API (American Petrolium Institute). Untuk tingkatan mutu ditandai dengan kode-kode huruf dan hanya tertera pada pelumas mesin. Kode tersebut terdiri atas dua bagian yang dipisahkan garis miring. Contohnya, API Service SG/CD, SH+/CE+, dsb.

Kode yang berawalan huruf S (kependekan dari kata Spark yang berarti percikan api) adalah spesifikasi untuk mesin bensin. Pembakaran pada mesin bensin memang dinyalakan oleh percikan api busi. Sedangkan pada mesin disel pembakaran terjadi karena adanya tekanan udara sangat tinggi, sehingga kode mutu pelumas mesinnya diawali huruf C (Compression). Huruf kedua pada kode mutu merupakan tingkatan mutunya, sesuai dengan urutan huruf atau alfabet. Semakin mendekati huruf Z semakin bagus mutu pelumas tersebut.

Pelumas dengan kode SG/CD menandakan pelumas tersebut terutama digunakan untuk mesin bensin (SG), meski dapat pula untuk mesin disel (CD). Dan tingkat mutu pelumas tersebut sampai pada tingkat G untuk mesin bensin dan tingkat D untuk mesin disel. Sedangkan tanda "+", misalnya pada kode SH+/CE+, adalah sebagai tanda nilai lebih dari tingkat SH dan CE.

Ada juga penulisan kode yang dibalik dengan huruf C di depan, misalnya CD/SF atau CE++/SH+. Ini pun ada maksud tertentu, yaitu pelumas dikhususkan untuk mesin disel, meskipun bisa pula digunakan pada mesin bensin.

Jika diperhatikan, meskipun pelumasnya sama bila digunakan pada mesin disel, mutunya dinilai lebih rendah daripada jika pelumas tersebut digunakan pada mesin bensin. Memang umumnya pelumas mesin mempunyai tingkat mutu seperti ini. Mesin disel mempunyai tekanan atau kompresi dua kali lipat lebih besar daripada mesin bensin. Akibatnya, getaran mesin dan momen puntir yang dihasilkan lebih besar. Tugas pelumas pada mesin disel pun lebih berat dibandingkan dengan pada mesin bensin. Karena itu, standar kualitasnya lebih tinggi ketimbang standar kualitas pelumas mesin bensin.
Yang menjadi patokan mutu pelumas adalah kekuatan lapisan film pelumas yang berfungsi melekatkan pelumat tersebut pada logam. Semakin tinggi kualitasnya, semakin kuat lapisan film mengikat pelumas pada permukaan logam mesin. Dikatakan semakin tinggi kualitasnya lantaran logam semakin terlindung dari proses keausan. Sampai saat ini tingkat kualitas pelumas masih sampai tingkat SJ+ dan CF++. Mesin-mesin teknologi baru seperti Twin-Cam, DOHC, Multi-Valve, VTEC, VVT, Turbo, dsb., menuntut pelumas tingkat tinggi, karena komponen mesin yang harus dilumasi sangat banyak.

Filternya juga wajib diganti

Jenis pelumas yang digunakan sebaiknya sesuai dengan persyaratan yang diminta produsen kendaraan bermotor yang bersangkutan dan menurut pemakaian kendaraan sehari-hari. Karenanya buku pedoman pemilik kendaraan bermotor perlu dibaca agar tidak terjadi salah pilih pelumas dan pengeluaran biaya terlalu mahal. Umpamanya, untuk mobil dengan mesin konvensional (4 silinder 8 katup), jika dalam buku pedoman disebutkan minimal tingkat SE atau CC, tidak perlu dipilih pelumas SJ+ atau CF+. Pemakaian pelumas bermutu tinggi pada mesin konvensional hanya memboroskan uang, kecuali jika kendaraan digunakan pada medan dan beban berat atau pada frekuensi pemakaian tinggi.

Perlu pula diperhatikan, masa pakai pelumas ada batasnya. Jangka waktu penggantian oli mesin berkisar antara 2.000 - 5.000 km, tergantung dari mutu pelumas yang digunakan. Semakin tinggi mutunya semakin lama jangka waktu penggantiannya. Sebaliknya, semakin berat tugas mesin, semakin cepat penggantiannya. Jadi, jangka waktu penggantian minyak pelumas tergantung pada tingkat pemakaian kendaraan tersebut.

Mobil yang digunakan setiap hari di dalam kota dan tidak melewati daerah macet dapat menggunakan pelumas SE atau SF untuk mesin bensin, dan CC atau CD untuk mesin diesel. Penggantiannya dilakukan setelah 3.000 - 5.000 km perjalanan. Kendaraan yang digunakan ke luar kota dengan kecepatan konstan dapat menggunakan minyak pelumas dengan kualitas sedikit lebih tinggi, misalnya SG atau SH (bensin) dan CD atau CE (disel). Untuk pemakaian yang lebih berat, misalnya digunakan di daerah macet atau daerah pegunungan yang penuh dengan tanjakan, sebaiknya digunakan pelumas dengan mutu tinggi atau frekuensi penggantian pelumas lebih sering, misalnya setiap 2.000 - 3.000 km.

Oli mesin sebaiknya sering sering diperiksa kondisinya dengan menggunakan tongkat pengukur pada mesin. Untuk memeriksanya cukup mudah. Cabut tongkat pengukur dari dudukannya, bersihkan dari minyak pelumas yang ada, masukkan, dan cabut kembali untuk mengetahui kondisi dan volume pelumas. Perhatikan ujung tongkat yang dibasahi pelumas. Permukaan pelumas harus berada di antara garis L (low) dan H (high). Jika dibawah garis L, tambahkan pelumas sampai mencapai garis H. Perhatikan juga warnanya. Jika oli berwarna hitam pekat, pelumas sudah kedaluwarsa dan perlu diganti dengan yang baru.

Penggantian oli mesin sering kali menjadi acuan penggantian suku cadang lain, seperti saringan oli (oil filter). Pada umumnya, penggantian saringan oli dilakukan setelah tiga kali ganti oli atau setiap 10.000 km. Penggantian ini sama pentingnya dengan penggantian pelumasnya. Saringan oli berfungsi untuk menyerap atau menyaring kotoran-kotoran dalam pelumas tersebut. Keterlambatan penggantiannya dapat berakibat fatal untuk mesin.

Jika saringan pelumas sudah penuh kotoran, saringan tersebut bakal tersumbat, sehingga tekanan pelumas meningkat dan pelumas akan mengalir melalui saluran by pass. Pelumas memang tetap mengalir dan bersirkulasi, tetapi tidak tersaring dan debit aliran pelumas menurun. Dalam kondisi seperti ini mesin mengalami kekurangan suplai pelumas (oil starvation). Tentu saja ini berakibat kurang baik pada komponen-komponen mesin.

Saat mengganti saringan, kebutuhan pelumas meningkat sekitar 0,5 l. Jadi, jika kapasitas pelumas 3 l, pada saat ganti saringan diperlukan oli sebanyak 3,5 l. Pada saat bersamaan sebaiknya mekanik diminta membersihkan pula saringan udara. Biasanya, jasa ini diberikan cuma-cuma sebagai bagian servis.

Dengan perawatan dasar yang teratur, diharapkan kendaraan tidak gampang merongrong pemiliknya. Usia pakai kendaraan juga bisa lebih lama. Tapi jangan lupa pula perawatan bagian kendaraan lain. Jangan sampai mesinnya tetap dalam kondisi prima, tetapi bodinya malah hancur. (Alb. Kristyas Orisanto)

No comments: